BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Pergerakan tanah di Desa Sembawa, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, kian mengkhawatirkan.
Fenomena ini sudah berlangsung selama empat tahun, namun dalam dua hari terakhir aktivitas tanah meningkat drastis, memicu kerusakan serius pada permukiman warga.
Sedikitnya 14 rumah dilaporkan mengalami kerusakan, dengan sebagian rumah dalam kondisi miring dan amblas, sehingga membahayakan penghuninya.
Beberapa keluarga bahkan mulai mengungsi karena takut akan potensi longsor susulan, terutama saat hujan turun.
“Kalau hujan yang di depan saja, nggak berani ke belakang, karena bagian belakang rumah sudah amblas dan retak,” ujar Timah (70), salah satu warga terdampak, Minggu (8/6).
Situasi serupa juga dialami Tarbini (80), yang mengaku seluruh bagian rumahnya kini dalam kondisi rusak. Dinding retak, lantai turun, dan bangunan mulai miring.
“Sudah retak semua, bahkan kondisi bangunan rumah sudah miring. Retakan terlihat di bagian depan, lantai juga sudah turun,” ungkapnya.
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan kerusakan signifikan. Rekahan di dinding dan lantai rumah warga terlihat menganga, sebagian bahkan mencapai lebar lebih dari 10 sentimeter.
Beberapa rumah tampak mulai bergeser dari pondasinya, sementara yang lain sudah ambles ke dalam tanah.
Kepala Desa Sembawa, Aditya Yoga, mengonfirmasi bahwa bencana geologi ini sudah dalam tahap darurat.
Ia menyebut, sejauh ini terdapat 17 rumah terdampak, dan tiga di antaranya sudah direlokasi ke lokasi yang lebih aman.
“Saat ini masih ada 14 rumah yang belum direlokasi. Dua rumah di antaranya rusak berat dan ditinggali lima jiwa,” terang Aditya.
Upaya relokasi dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan lahan milik desa. Namun, solusi jangka panjang belum bisa diterapkan sepenuhnya karena penanganan pergerakan tanah membutuhkan sinergi antarlembaga.
“Kami sudah membuat drainase untuk mengurangi laju pergerakan tanah. Selain itu, kami juga sudah mengajukan bantuan ke pemerintah kabupaten hingga ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak,” jelasnya.
Aditya menjelaskan, faktor utama pemicu bencana ini adalah erosi akibat aliran sungai yang berada dekat permukiman warga. Sayangnya, sungai tersebut berada di bawah kewenangan BBWS, sehingga pemerintah desa tidak dapat langsung melakukan intervensi teknis secara penuh.
“Permasalahan utamanya dari sungai yang mengikis tanah di sekitar pemukiman. Karena ini masuk wilayah BBWS, kami hanya bisa berharap mereka turun tangan lebih cepat,” imbuhnya.
Warga desa kini hidup dalam ketidakpastian, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa intensitas hujan yang tinggi bisa mempercepat pergerakan tanah, sekaligus meningkatkan risiko longsor besar yang dapat merenggut nyawa.
Mereka berharap pemerintah pusat dan lembaga terkait segera mengambil langkah konkret.
Relokasi permanen dan penguatan struktur tanah menjadi harapan utama, agar warga dapat hidup dengan rasa aman, terlebih banyak dari mereka yang telah tinggal di desa tersebut selama puluhan tahun.
Jika tidak segera ditangani, ancaman ini bisa berkembang menjadi bencana besar yang tidak hanya merugikan secara material, tapi juga mengorbankan keselamatan warga yang sudah lama bergantung hidup di lereng perbukitan Desa Sembawa. (jud/stch)
















