BANYUMASEKSPRES.ID, FILIPINA – Kisah Sadako Sasaki, gadis Jepang yang menjadi salah satu simbol harapan setelah tragedi bom atom Hiroshima, kembali menginspirasi gerakan perdamaian.
Ratusan anak di Filipina melipat lebih dari seribu burung bangau origami sebagai simbol harapan sekaligus pesan penolakan terhadap perang.
Kegiatan tersebut digelar di sebuah gereja di Quezon City, wilayah yang berada di sebelah utara Manila.
Kampanye perdamaian itu digagas Pastor Katolik Robert Reyes dan dilaksanakan dalam dua kegiatan, yakni pada akhir April serta pertengahan Mei.
Anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut diajak mengenal kisah Sadako Sasaki sebelum mulai melipat burung bangau dari kertas.
Bagi penyelenggara, kegiatan sederhana itu menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya perdamaian kepada generasi muda.
Burung bangau origami atau orizuru sendiri telah lama dikenal sebagai simbol perdamaian.
Makna tersebut semakin kuat karena dikaitkan dengan kisah Sadako, seorang anak Jepang yang menjadi korban dampak radiasi bom atom Hiroshima.
Sadako Sasaki baru berusia dua tahun ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima pada 1945.
Meskipun selamat dari ledakan, ia kemudian mengalami dampak radiasi yang menyebabkan leukemia.
Sepuluh tahun setelah tragedi Hiroshima, Sadako meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Namun, kisah perjuangannya kemudian berkembang menjadi simbol harapan dan perdamaian yang dikenal hingga berbagai penjuru dunia.
Sebelum meninggal, Sadako terus membuat burung bangau origami.
Ia terinspirasi legenda Jepang yang menyebutkan bahwa seseorang yang berhasil melipat seribu burung bangau dapat memperoleh sebuah harapan.
Kisah tersebut kemudian menjadi bagian penting dari pesan perdamaian yang ingin disampaikan dalam kegiatan di Filipina.
Anak-anak tidak hanya diajak melipat kertas, tetapi juga memahami bagaimana sebuah simbol sederhana dapat membawa pesan kemanusiaan yang kuat.
Pastor Robert Reyes mengaku pertama kali mengenal lebih jauh kisah Sadako ketika mengunjungi Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima pada 2024.
Kunjungan tersebut memberikan kesan mendalam dan kemudian mendorongnya mengangkat kisah Sadako dalam kegiatan bersama anak-anak di parokinya.
Menurut Reyes, pesan perdamaian dapat disampaikan melalui berbagai cara. Salah satunya dengan kegiatan sederhana seperti membuat origami burung bangau.
Gagasan tersebut dinilai semakin relevan di tengah berbagai konflik bersenjata yang masih berlangsung di sejumlah wilayah dunia.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terkena dampak perang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kegiatan pertama diikuti sekitar 50 anak. Acara diawali dengan doa bersama dan pemutaran video yang menceritakan kehidupan Sadako Sasaki.
Setelah mengetahui kisah Sadako, para peserta kemudian mulai melipat kertas menjadi burung bangau.
Lebih dari sekadar aktivitas kerajinan, origami tersebut menjadi sarana bagi anak-anak untuk ikut menyuarakan harapan agar perang dan kekerasan tidak terus terjadi.
Salah satu peserta, Leah Dacume, mengaku kisah Sadako sangat menginspirasi.
Perjalanan hidup gadis Jepang tersebut menunjukkan bagaimana seseorang tetap dapat memiliki harapan meskipun menghadapi situasi yang sangat sulit.
Peserta lainnya, Anica dela Torre, juga merasa kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda.
Ia menganggap burung bangau yang dibuatnya menjadi salah satu bentuk kecil untuk ikut menyuarakan perdamaian.
Antusiasme peserta kemudian semakin besar dalam kegiatan kedua. Sekitar 200 anak ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut bersama Uskup Agung Charles Brown, perwakilan Vatikan di Manila.
Kehadiran ratusan anak membuat kampanye perdamaian tersebut semakin meriah.
Mereka bersama-sama membuat burung bangau origami yang kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari pesan perdamaian.
Charles Brown menyampaikan bahwa perang selalu membawa penderitaan.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampak dari konflik bersenjata, meskipun mereka tidak terlibat dalam konflik tersebut.
Karena itu, pesan perdamaian yang disampaikan melalui kegiatan tersebut dinilai penting.
Anak-anak dapat belajar bahwa perdamaian bukan hanya persoalan politik atau hubungan antarnegara, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Brown bahkan berjanji akan mengirimkan sebagian burung bangau origami hasil karya anak-anak Filipina tersebut kepada Paus Leo XIV di Roma.
Langkah itu diharapkan dapat membawa pesan perdamaian dari anak-anak Filipina ke lingkungan yang lebih luas.
Kisah Sadako Sasaki sendiri telah melewati batas waktu dan negara. Puluhan tahun setelah tragedi bom atom Hiroshima, kisahnya masih dikenang melalui berbagai gerakan perdamaian.
Burung bangau yang dilipat Sadako ketika berjuang melawan leukemia kemudian berkembang menjadi simbol harapan.
Dalam konteks kegiatan di Filipina, simbol tersebut kembali digunakan untuk mengingatkan bahwa perang membawa dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Lebih dari seribu burung bangau origami yang dibuat anak-anak Filipina menjadi gambaran bagaimana pesan besar dapat disampaikan melalui tindakan sederhana.
Setiap lipatan kertas membawa harapan agar generasi mendatang dapat hidup tanpa perang dan kekerasan.
Kampanye tersebut juga menunjukkan pentingnya mengenalkan sejarah kepada anak-anak melalui cara yang mudah dipahami.
Kisah Sadako tidak hanya menjadi cerita tentang tragedi Hiroshima, tetapi juga tentang keberanian, harapan, dan keinginan untuk melihat dunia yang lebih damai.
Di tengah konflik yang masih terjadi di berbagai belahan dunia, simbol burung bangau origami kembali mengingatkan masyarakat tentang harga mahal sebuah perang.
Dari kisah seorang gadis kecil di Jepang, pesan perdamaian kini diteruskan oleh ratusan anak di Filipina.
Lebih dari seribu burung bangau yang mereka buat akhirnya menjadi simbol harapan bersama.
Bukan hanya untuk mengenang Sadako Sasaki, tetapi juga sebagai ajakan agar perdamaian terus diperjuangkan oleh generasi sekarang dan generasi yang akan datang. (*/stch/dda)














